Selasa, 25 Januari 2011

sragenan

Gending-gending Sragenan sering menjadi topik perbincangan seru di kalangan pelaku karawitan Jawa. Beberapa orang bahkan
mengkritiknya keras. Musikalitasnya dikatakan tidak bermutu dan penyajiannya digunakan oleh sekelompok orang untuk berjoged dan
minum minuman beralkohol. Walaupun banyak mendapatkan kritikan, namun gending-gending Sragenan tetap hidup, bahkan tambah hari
kehidupannya makin semarak dan wilayah persebarannya makin rneluas. Setelah dilakukan pengamatan, ditemukan kata gayeng jenis
suasana atau rasa yang mempunyai kedudukan penting dalam gending-gending Sragenan. Dalam berbagai penyajian karawitan, kata guyeng
sering diucapkan oleh para penikmat untuk meminta atau menunjuk gending-gending Sragenan. Dari temuan itu timbul permasalahar.:(1)
Bagaimana format garap musikal gending-gending Sragenan?; (2) Bagaimana bangunan suasana atau rasa gayeng?; (3) Apa kedudukan
guyeng dalam gending-gending Sragenan?; (4) Faktor apa saja yang menjadi penyebab timbulnya suasana gayeng dalam gending-gending
Sragenan? Tujuan penelitian adalah:(1) Mendeskripsikan format garap musikal gending-gending Sragenan; (2) Merumuskan bangunan
suasana gayeng; (3) Menemukan kedudukan guyeng dalam gendinggending Sragenan; (4) Menemukan faktor penyebab timbulnya suasana
gayeng dalam sajian gending-gending Sragenan. Data penelitian diperoleh dari sumber tertulis, pengamatan, wawancara, dan kaset audio
komersial. Beberapa tulisan yang diperlukan antara lain: ( 1) data statistik . Kabupaten Sragen; (2) Tulisan tentang karawitan Jawa dan
karawitan yang hidup di Sragen. Data dari pengamatan antara lain: (1) waktu pementasan karawitan; (2) repertoar dan garap musikal
gending-gending Sragenan; dan (3) berbagai bentuk interaksi pada penyaji maupun penonton. Data dari wawancara antara lain: (1)
keberadaan, fungsi seni dan sosial gending-gending Sragenan; dan (2) arti gayeng. Kaset audio komersial gending-gending Sragenan
digunakan sebagai pembanding penyajian karawitan dalam studio rekaman dan pertunjukan langsung. Kesimpulan hasil penelitian sebagai
berikut: gending-gending Sragenan terdiri atas garap badhutan dan dungdutun. Keduanya memiliki ciri garap musikal meliputi: bentuk,
instrumental, dan vokal. Garap musikal tersebut berorientasi pada terciptanya suasana atau rasa gayeng, jenis suasana atau rasa yang
mengandung unsur: menah (ramai, seru, hidup, regeng, sigruk, gumyak), gecul (jenaka, lucu, humoris), enak (nikmat, segar, mempesona,
sejuk, menarik hati), dan senang (betah atau kerasan) yang timbul dari proses kegiatan atau peristiwa interaktif Agar bersuasana gayeng,
gending asal berbentuk apapun diubah menjadi srepegan dan dangdut. Kendangan disajikan sedemikian rupa agar "enak dijogedi". Bonang
barung dan penerus banyak memainkan pola jalinan, demikian pula demung dan saron. Teks vokal menggunakan bahasa keseharian yang
temanya dikenal akrab oleh masyarakat. Dalam gending-gending Sragenan juga banyak terdapat garap jengglengan dan suwukan. Timbulnya
  1. suasana gayeng juga ditentukan oleh garap volume keras, tempo cepat, kebak isian musikal, dan geculan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar